Siang itu, halaman Madrasah Diniyah Asasul Islamiyah dan Darul Hakim Cibatu terasa beda. Biasanya riuh suara hafalan Juz Amma, hari ini bercampur isak haru. Spanduk sederhana bertuliskan “Tasyakuran & Perpisahan Pengabdian Masyarakat MA Asasul Islamiyah” berkibar pelan. Di sanalah 3 pekan pengabdian santri kelas XII MA Asasul Islamiyah Cibatu, Cikembar, Sukabumi resmi ditutup.
3 Minggu, Seribu Cerita
Tanggal itu datang juga.
Hari pertama mereka datang dengan ransel, mukena, sarung, dan sedikit canggung.
Hari terakhir mereka pulang dengan mata sembab, pelukan erat dari adik-adik
Diniyah, dan titipan doa dari ibu-ibu majelis taklim.
Apa saja yang mereka
tinggalkan?
1. Ruang Kelas yang Kini Bernyawa
Dinding
MD Asasul Islamiyah yang tadinya kusam kini penuh mading warna-warni. “Pohon
Cita-Cita” buatan santri MA jadi tempat adik-adik kelas 1 nempelin harapan:
“Ingin jadi dokter”, “Ingin bisa ngaji lancar”. Catnya dari uang saku yang
disisihkan. Kuasnya dari tangan yang ikhlas.
2. Ngaji yang Nggak Bikin Ngantuk“
Bi,
ngaji pake tepuk tangan lagi dong!” teriak Nabila, santri Diniyah kelas 2.
Selama 3 minggu, kakak-kakak MA ngajarin Iqro pake lagu, hafalan surat pendek
pake gerakan, dan kisah nabi pake wayang kertas. Di Darul Hakim, ba’da Maghrib
jadi rame. Bukan cuma anak-anak, bapak-bapak pun ikut melingkar dengerin
“kultum 5 menit” dari santri MA yang dulu gugup, sekarang lantang.
3. Gotong Royong, Gotong Rasa
Mereka
nggak cuma ngajar. Siang ikut bersihin selokan madrasah. Membantu nari dan
hafalan untuk persiapan kenaikan kelas. Kata Pak Ustadz Holid, S.Pd,I, Kepala
MD Asasul Islamiyah: “Anak-anak MA ini ngajarin kami bahwa ngabdi itu bukan
cuma pake kitab, tapi pake tenaga.”
Air Mata di Hari
Perpisahan
Acara penutupan digelar
sederhana. Ada pembacaan ayat suci, sambutan, penampilan hadroh adik-adik
Diniyah, dan pemutaran video dokumentasi. Tapi yang bikin jebol pertahanan
adalah sesi “pesan kesan”.“Teteh, aa, jangan pulang dulu ya. Siapa yang ajarin
aku ngaji nanti?” suara Fahri, kelas 3 Diniyah, bikin satu lapangan diam.
Salsa, siswi MA, maju dengan suara bergetar: “Fahri, teteh pulang bukan berarti
ninggalin. Teteh nitip MD ini ke kamu. Besok kamu yang gantiin teteh ngajar
adik kelas 1. Mau ya? Biar ilmunya nyambung terus.”Bu Hj. Imas, pimpinan Darul
Hakim, nyeka air mata sambil bilang: “20 tahun saya ngurus madrasah, baru kali
ini ngerasain Diniyah serame ini. Anak-anak MA nggak cuma ngasih ilmu. Mereka
ngasih rasa memiliki.”
Bukan Akhir, Tapi Awal
Kepala MA Asasul
Islamiyah, Bapak Zenal Abidin, S.Pd.I, berpesan: “Pengabdian itu kayak shalat.
Ada takbiratul ihram, ada salam. Hari ini salamnya. Tapi bekas sujudnya harus
nempel di kening kalian sampai kapanpun. Masyarakat Cibatu udah jadi keluarga
kedua.”Sebelum pulang, santri MA dan santri Diniyah tukar kado: gantungan kunci
tanah liat bertuliskan “Dari Cibatu, Untuk Negeri”. Buatan tangan adik-adik
Diniyah. Sederhana, tapi harganya nggak ternilai.Mereka datang sebagai siswa.
Mereka pulang sebagai saudara. Karena pengabdian yang tulus itu nggak kenal
kata perpisahan. Yang ada cuma “sampai jumpa” di lain waktu, dengan versi diri
yang lebih baik.
Terima kasih MA Asasul
Islamiyah. Terima kasih MD Asasul Islamiyah & Darul Hakim. Dari Cibatu,
kita belajar bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi
manusia lainnya.
“Punya cerita pengabdian
juga? Share di kolom komentar.”



.jpeg)
0 komentar:
Posting Komentar